Friday, March 1, 2013

TARI PIRING KHAS DARI MINANGKABAU

kesenian tari piring
tarian piring
Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang adalah salah satu seni tari di Minangkabau yang berasal dari kota Solok, provinsi Sumatera Barat. Tarian tersebut dimainkan dengan menggunakan piring sebagai media utama. Piring-piring tersebut kemudian diayun dengan gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa terlepas dari genggaman tangan.
Tari Piring pada awalnya digunakan oleh masyarakat Minangkabau dengan tujuan memberikan ucapan syukur kepada dewi padi pada saat musim panen tiba, karena hasil panen yang melimpah. Disamping itu, Tari Piring digerakan atau dipentaskan oleh para pemuda-pemudi masyarakat Minangkabau.


Namun dengan masuk dan terbentuknya kerajaan-kerajaan yang terjadi di Minangkabau, kegunaan dan tujuan dari tari piring tersebut berubah. Pada zaman kerajaan
di Minangkabau, tari piring berubah kegunaan menjadi alat untuk memberikan rasa penghormatan kepada para anggota kerajaan, terutama kepada raja yang memimpin.

Setelah pergantian zaman, dimana kini Indonesia telah bersatu, Tari Piring kembali berubah fungsi. Tujuan dari kegunaan Tari Piring pada saat ini dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk acara-acara pernikahan yang terjadi di daerah Minangkabau (masyarakat-masyarakat keturunan Minangkabau) dan juga untuk melestarikan seni budaya tarinya.

Zaman dulu biasanya pementasaan Tari Piring dimainkan oleh satu penari namun kini jumlah penari untuk Tari Piring dimainkan dalam jumlah tak tertentu tetapi harus berjumlah ganjil. Gerakan Tari Piring pada umumnya adalah meletakkan dua buah piring di atas dua telapak tangan yang kemudian diayun dan diikuti oleh gerakan-gerakan tari yang cepat, dan diselingi dentingan piring atau dentingan dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya. Pada akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari dilemparkan ke lantai dan kemudian para penari akan menari di atas pecahan-pecahan piring tersebut
Dapat disimpulkan bahwa dalam Tari Piring memiliki nilai-nilai trasedental, dimana nilai-nilai trasendental terdapat dalam tata cara pelaksanaan Tari Piring. Piring-piring yang dipegang oleh para penari disusun keatas,dimana menunjukan bahwa piring diatas bertujuan untuk kearah Tuhan (trasendental) dan juga terlihat dalam fungsi dan tujuan tari piring ini merupakan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan, terhadap apa yang telah diberikan kepada masyarakat Minangkabau.

Tarian ini diiringi oleh alat musik Talempong dan Saluang. Jumlah penari biasanya berjumlah ganjil yang terdiri dari tiga sampai tujuh orang. Kombinasi musik yang cepat dengan gerak penari yang begitu lincah membuat pesona Tari Piring begitu menakjubkan. Pakaian yang digunakan para penaripun haruslah pakaian yang cerah, dengan nuansa warna merah dan kuning keemasan.

Urutan Seni Tari Piring.


Pada seni Tari Piring dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hal tersebut tergantung tempat atau kampung dimana Tarian Piring dilakukan. Namun tidak begitu banyak perbedaan dari Tari Piring yang dilakukan dari satu tempat dengan tempat yang lainnya, khususnya mengenai konsep, pendekatan dan gaya persembahan. Secara keseluruhannya, untuk memahami bagaimana sebuah Tari Piring disajikan, di bawah ini merupakan urutan atau susunan sebuah persembahannya.


  • Persiapan Awal Tari Piring

Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebuah seni tari harus dimulai dengan persediaan yang rapi. Sebelum diadakan, selain latihan untuk mewujudkan ketrampilan, para penari Tari Piring juga harus memiliki latihan penafasan yang baik. Menjelang hari pementasan, para penari Tari Piring harus memastikan agar piring-piring yang mereka gunakan berada dalam keadaan baik. Piring yang retak atau sumbing harus digantikan dengan yang lain, agar tidak membahayakan diri sendiri atau orang ramai yang menonton. Para penari juga memutuskan jumlah piring yang akan digunakan.
Setelah berakhir pementasan Silat Pulut di hadapan pasangan pengantin, piring-piring akan diatur dalam berbagai bentuk dan susunan dihadapan pasangan pengantin mengikuti jumlah yang diperlukan oleh penari Tari Piring. Disaat yang sama, para penari Tari Piring menggunakan dua bentuk cincin khas, yaitu satu cincin di jari tangan kanan dan satu di jari tangan kiri.



  • Mengawali Tari Piring

Tari Piring akan diawali dengan rebana dan gong yang dimainkan oleh para pemusik. Sebelum tarian dimulai, para penari memberi “sembah pengantin” sebanyak tiga kali sebagai tanda hormat kepada pengantin tersebut yaitu :
 Sembah pengantin tangan dihadapan
 Sembah pengantin tangan disebelah kiri
 Sembah pengantin tangan disebelah kanan


  • Menari Tari Piring

Para penari Tari Piring akan memulai tariannya dengan piring yang di letakkan dihadapannya serta mengayun-ayunkan tangan ke kanan dan kiri, mengikut rentak alunan musik yang dimainkan. Para penari kemudian akan berdiri dan menaiki pijakan pada satu persatu piriring-piring yang telah disusun lebih awal tadi,sambil menuju kearah pasangan pengantin di hadapannya. Pada umumnya, para penari Tari Piring memastikan semua piring yang telah diatur tersebut dipijak. Setelah semua piring dipijak, maka para penari Tari Piring akan mengundurkan langkahnya dengan tetap memijak semula piring yang telah disusun tadi. Penari tidak boleh membelakangi pengantin. Pada waktu yang bersamaan, kedua tangan para penari akan terus berayun ke kanan dan ke kiri sambil mengetuk jari-jari yang telah menggunakan cincin dengan bagian bawah piring. Sesekali, kedua telapak tangan yang diletakkan piring akan berputar ke atas dan ke bawah, begitu juga dengan kepala.



  • Akhir Tari Piring

Sebuah sajian Tari Piring oleh penari akan berakhir apabila semua piring telah dipijak dan penari menutup tarian dengan melakukan sembah penutup atau sembah pengantin sekali lagi. Sembah penutup juga diakhiri dengan tiga sembah pengantin dengan susunan berikut :
 Sembah pengantin tangan sebelah kanan
 Sembah pengantin tangan sebelah kiri
 Sembah pengantin tangan sebelah hadapan






No comments:

Post a Comment